Bung Karno pernah menyatakan bahwa bangsa yang besar adalah bangsa
yang
menghormati pehlawan-pahlawannya. Setiap tahun, tepatnya tanggal 10
November kita memperingati dan merayakan hari itu sebagai Hari Pahlawan.
Bisa juga dikatakan bahwa kegiatan itu merupakan salah satu bentuk
penghormatan terhadap pahlawan-pahlawan yang telah mendahului kita,
karena jasa-jasanya ikut merebut dan mempertahankan kemerdekaaan.
Pada masa lalu pengertian
pahlawan lebih sempit, karena hanya terbatas pada pahlawan sebagai
pejuang yang pernah angkat senjata, bertempur atau berperang melawan
penjajah. Pengertian lebih luas kemudian berkembang bahwa siapapun yang
pernah berjasa kepada negara, entah ia orang militer atau sipil,
semuanya dianggap pahlawan. Kita mengenal berpuluh-puluh pahlawan yang
ditetapkan oleh negara dengan predikat Pahlawan Nasional.
Deretan nama-nama Pahlawan Nasional dari sudut sejarahnya dimulai sejak
jauh sebelum abad ke-20, hingga ke pertengahan abad ke-20 dalam berbagai
lapangan perjuangan, selain tokoh-tokoh militer dan juga tokoh-tokoh
pergerakan nasional yang berjuang dengan menggunakan berbagai media
organisasi, baik organisasi sosial-budaya maupun politik (parpol), yang
hasilnya adalah kemerdekaaan Indonesia pada tahun 1945.
Pada tanggal 10 November 1945 di Surabaya pecah pertempuran
besar-besaran antara rakyat (arek-arek Suroboyo) melawan tentara Sekutu
yang diboncengi Belanda. Inilah keunikan Indonesia. Di banyak bangsa
lain mereka terlebih dahulu melakukan pertempuran dan peperangan,
setelah kekuatan kolonial dikalahkan, barulah mereka mencetuskan
kemerdekaaan.
Di negara kita, kita terlebih dahulu memproklamirkan kemerdekaaan,
barulah kemudian pecah peperangan karena Belanda mengirimkan
balatentaranya untuk merebut kembali tanah air kita agar mereka dapat
menduduki (menjajah) kembali tanah air kita. Dengan demikian perang
kemerdekaan Indonesia lebih banyak sebagai perjuangan untuk
mempertahankan kemerdekaan yang telah diproklamirkan
Proporsional
Kembali ke masalah semula, bagaimana kita sebaiknya menghormati pahlawan
secara proporsional dan tentu saja disesuaikan dengan perkembangan
zaman baik masa kini maupun yang akan datang? Kita menyadari bahwa tanpa
munculnya pahlawan-pahlawan itu, mustahil kita akan menghirup udara
kemerdekaaan seperti sekarang ini. Meskipun para pahlawan itu sendiri
tidak berkeinginan untuk dihormati dan juga tidak ada pamrih untuk
memperoleh tanda-tanda jasa seperti bintang kehormatan dan lain
sebagainya, kita tetap terus menghormati dan menghargai kepahlawanan
mereka. Salah satu cara untuk menghormati mereka adalah dengan mewarisi
semangat juang termasuk alam pikiran mereka yang memotivasi mereka untuk
berjuang demi kepentingan bangsa dan tanah air.
Pada tahun 1960-an Presiden AS, John F. Kennedy pernah mengucapkan
pernyataannya yang terkenal: "Jangan bertanya apa yang dapat negara
berikan kepadamu, tapi bertanyalah apa yang dapat engkau persembahkan
untuk negaramu." Dengan kata lain, perjuangan murni para pahlawan adalah
tanpa pamrih, mereka lebih banyak memberi daripada menerima. Pemberian
mereka untuk negara berupa pengorbanan waktu, mengesampingkan
kepentingan pribadi, keluarga, kelompok atau golongannya. Mereka
memberi, sekali lagi, hanya memberi.
Mereka juga mengharapkan bukan pada negara, tapi pada kita sebagai ahli
warisnya yang harus meneruskan estafeta perjuangan bangsa, baik untuk
masa kini maupun masa yang akan datang. Para pahlawan itu mengharapkan
akan terus lahir pahlawan-pahlawan baru dengan lapangan perjuangan yang
bervariasi, sesuai dengan bidang dan keahlian masing-masing.
Dengan dasar itu kita mengisi kemerdekaaan untuk membawa Indonesia
sebagai negara yang lebih maju, memberikan perlindungan dan
kesejahteraan kepada segenap rakyat, agar dapat hidup layak dan
bermartabat sesuai dengan amanah Konstitusi. Dengan demikian maka setiap
perbuatan atau langkah yang tercela, seperti korupsi, berkeinginan
memisahkan diri dari NKRI (separatisme) dan perbuatan-perbuatan tak
terpuji lainnya, merupakan pengkhianatan terhadap cita-cita luhur para
pahlawan yang telah mendahului kita.
Namun kebalikannya, kita jangan sampai menghormati pahlawan dengan
kelewat batas. Pengagungan yang berlebihan terhadap pahlawan atau tokoh
akan menggiring kita pada apa yang disebut sebagai kultus individu. Ini
berlainan dengan menghormati pahlawan (hero worship).
Dalam sejarah Indonesia pada abad yang lalu, pernah terjadi suatu masa
dimana sebagian rakyat Indonesia menghormati dan memuja Bung Karno
secara berlebihan. Memang Bung Karno besar jasanya pada bangsa dan
negara. Ia, bersama Bung Hatta adalah proklamator kemerdekaan, statusnya
lebih tinggi dari Pahlawan Nasional. Ia juga berperanan besar sebagai
peletak dasar negara, hingga kita tetap bersatu sebagai satu bangsa
sekarang ini, karena memiliki jatidiri yang kuat yakni Pancasila.
Namun penghormatan dan penghargaan yang berlebihan menyebabkan sebagian
rakyat mengkultusindividukan Bung Karno. Karena sikap yang berlebihan
tersebut, apapun yang disuarakan Bung Karno mereka anggap benar semua.
Padahal bagaimanapun, dibalik segala kebesarannya Bung karno juga
manusia biasa yang tak luput dari kesalahan atau kekhilafan. Di manapun,
bila kita pelajari sejarah bangsa-bangsa lain, pemimpin yang merasa
dikultusindividukan oleh rakyatnya akan mudah sekali menjadi otoriter,
berkembang lebih jauh menjadi diktator, bila ia diberi kesempatan
memegang tampuk kekuasaan negara. Ia merasa senang didewa-dewakan oleh
rakyatnya.
Orang menyebut adanya penyakit kejiwaan yang disebut megalomania.
Megalomania adalah suatu kelainan jiwa (seorang pemimpin) yang ditandai
oleh khayalan tentang kekuasaan dan kebesaran diri. Beruntung dalam abad
ke-21 ini kita tidak lagi mempunyai pemimpin megalomaniak. Pada zaman
dahulu pemujaan terhadap pemimpin atau palawan yang berlebihan menjurus
pada pemujaan berlebihan terhadap pahlawan, sehingga pahlawan itu
dianggap sebagai Dewa. Lalu dibuatlah patung-patung yang dipuja-puja
sebagai Tuhan pada acara penting dalam ritual keagamaan tertentu.
Dikisahkan, sebelum Nabi Muhammad SAW menaklukkan Mekah, di dalam Ka’bah
terdapat patung-patung yang dipuja oleh orang-orang Arab bila mereka
sedang beribadah mengelilingi Ka’bah. Patung-patung itu konon adalah
perwujudan para pahlawan mereka yang dianggap besar jasanya dalam
peperangan melawan musuh. Penghormatan yang berlebihan terhadap pahlawan
yang diwujudkan dalam patung-patung itu kemudian dimusnahkan, karena
menghambat manusia untuk berhubungan langsung dengan Allah, Tuhan Yang
Maha Esa.
Menghormati dan menghargai pahlawan tidak perlu berlebihan, cukup
proporsional, kecuali kita meneruskan cita-cita luhur mereka,
mengembangkan terus alam pikiran mereka untuk memperkuat motivasi
meneruskan perjuangan pahlawan membangun tanah air! Selamat memperingati
Hari Pahlawan! ***
0 komentar
Posting Komentar